Nur Alim Natsir
Dosen pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon
Abstract
The development of knowledge and technology has get any changes in human life, and these changes are very vast. These changes have influenced human life in religion, morality, and feeling. It is proved in forming religious alternatives and subjective condition that very tight, so that energy cannot divide to get objective barrier. For that the epistemology principals of integrality, get togetherness between knowledge and technology and also faith and technology. Today, modern knowledge and technology still far from morality or axiology, so we still need comprehensive ijtihad, spiritual and intellectual.
Keywords : IPTEK, Pemikiran Islam, Teologis, Peradaban Modern
A. Pendahuluan
Di dunia modern ini, ilmu (dan anak keturunan dan bahkan asuhannya: teknologi) tak dapat diingkari lagi pendominasiannya. Maka dipandang permasalahannya, IPTEK pun dianggap biasa sebagai sumber nasehat menyangkut etika maupun moral. Pernya-taan ini tentunya lebih mudah diterima oleh para etikawan fenome-nologi.[1] Olehnya itu, kemajuan suatu bangsa maupun umat Islam, ketika umat Islam pernah menempatkan posisi sentral perkem-bangan IPTEK, umat Islam benar-benar disegani. Keadaan ini, umat Islam semakin tersaing dalam kancah perkembangan IPTEK, kalah saing dalam rekayasa, alih dan rebut teknologi. Akibatnya, umat Islam harus puas hanya sebagai konsumen teknologi seraya sesekali terkagum-kagum terhadap adanya penemuan-penemuan baru yang menakjubkan, dan sesekali pula mencocok-cocokkan dengan ayat Al-Qur’an.
Kepuasan konsumtif itu perlu dihindari. Umat Islam harus bangkit mengejar ketinggalannya untuk me-ngembalikan seperti masa kejayaan sebagaimana yang telah diraih. Isyarat ini Al-Qur’an telah memotivirnya agar disadari bahwa hal itu bergilir dan bergantian (QS.3:140).[2] Penguasaan IPTEK mutlak diperlukan bagi umat Islam sebagaimana diungkapkan hal senada oleh Abdussalam, fisikawan Muslim peraih hadiah Nobel.[3] IPTEK dan pemikiran modern tak dapat dihindari sehingga pernah diper-tanyakan oleh M. Natsir, bagaimana menempatkan gejala itu dalam kerangka pemikiran Islam?[4]
B. Kekuatan IPTEK
Hampir menjadi pengetahuan umum (common sense) bah-wa dasar dari peradaban modern adalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). IPTEK merupakan dasar dan pondasi yang menjadi penyangga bangunan peradaban modern barat sekarang ini. Masa depan suatu bangsa akan banyak ditentukan oleh tingkat penguasaan bangsa itu terhadap IPTEK. Suatu masyarakat atau bangsa tidak akan memiliki keunggulan dan kemampuan daya saing yang tinggi bila ia tidak mengambil dan mengembangkan IPTEK. Bisa dimengerti bila setiap bangsa di muka bumi sekarang ini, berlomba-lomba serta bersaing secara ketat dalam penguasaan dan pengembangan IPTEK.[5]
Diakui bahwa IPTEK di satu sisi telah memberikan “ber-kah” dan anugrah yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Namun di sisi lain, IPTEK telah mendatangkan “petaka” yang pada gilirannya mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Kemajuan dalam bidang IPTEK telah menimbulkan perubahan sangat cepat dalam kehidupan umat manusia. Perubahan ini, selain sangat cepat memi-liki daya jangkau yang amat luas. Hampir tidak ada segi-segi ke-hidupan yang tidak tersentuh oleh perubahan. Perubahan ini pada kenyataannya telah menimbulkan pergeseran nilai-nilai dalam ke-hidupan umat manusia, termasuk di dalamnya nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan.[6]
Di Eropa, sejak abad pertengahan, timbul konflik antara ilmu pengetahuan (sains) dan agama (gereja). Dalam konflik ini sains keluar sebagai pemenang, dan sejak itu sains melepaskan diri dari kontrol dan pengaruh agama serta membangun wilayahnya sendiri secara otonom.[7] Dalam perkembangannya lebih lanjut, setelah terjadi revolusi industri di Barat, terutama sepanjang abad XVIII dan XIX, sains bahkan menjadi “agama baru” atau “agama palsu” (pseodo religion). Dalam kajian teologi modern di Barat, timbul mazhab baru yang dinamakan “saintisme” dalam arti bahwa sains telah menjadi isme, ideologi bahkan agama baru.[8]
Namun sejak pertengahan abad XX, terutama setelah terjadi penyalahgunaan IPTEK dalam perang dunia I dan perang dunia II, banyak pihak mulai menyerukan perlunya integrasi ilmu dan agama, IPTEK dan IMTAK. Pembicaraan tentang IPTEK mulai di-kaitkan dengan moral dan agama hingga sekarang (ingat kasus kloning misalnya). Dalam kaitan ini, keterkaitan IPTEK dengan moral (agama) diharapkan bukan hanya pada aspek penggunaannya saja (aksiologi), tapi juga pada pilihan objek (ontologi) dan meto-dologi (epistemologi)-nya sekaligus.
C. Latar Belakang Perlunya Integrasi IMTAK dan IPTEK
Di negara ini, gagasan tentang perlunya integrasi pen-didikan IMTAK dan IPTEK ini sudah lama digulirkan. Profesor B.J. Habibie, adalah orang pertama yang menggagas integrasi IMTAK dan IPTEK ini. Hal ini, selain karena adanya problem dikotomi antara apa yang dinamakan ilmu-ilmu umum (sains) dan ilmu-ilmu agama (Islam), juga disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa pengembangan IPTEK dalam sistem pendidikan kita tam-paknya berjalan sendiri, tanpa dukungan asas iman dan takwa yang kuat sehingga dikhawatirkan pengembangan dan kemajuan IPTEK tidak memiliki nilai tambah dan tidak memberikan manfaat yang cukup berarti bagi kemajuan dan kemaslahatan umat dan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya.
Kekhwatiran ini cukup beralasan karena sejauh ini sistem pendidikan kita tidak cukup mampu menghasilkan manusia Indo-nesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Sebagaimana diharapkan. Berbagai tindak kejahatan sering terjadi dan banyak di-lakukan justru oleh orang-orang yang secara akademik sangat ter-pelajar, bahkan mumpuni. Ini berarti, aspek pendidikan turut me-nyumbang dan memberikan saham bagi kebangkrutan bangsa yang kita rasakan sekarang. Kenyataan ini menjadi salah satu catatan mengenai raport merah pendidikan nasional kita. Secara lebih spesifik, integrasi pendidikan IMTAK dan IPTEK ini diperlukan karena empat alasan, yaitu:
Pertama, sebagaimana telah dikemukakan, IPTEK akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi ke-sejahteraan hidup umat manusia bila IPTEK disertai oleh asas iman dan takwa kepada Allah swt. Sebaliknya, tanpa asas IMTAK, IPTEK bisa disalahgunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat des-truktif. IPTEK dapat mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Jika demikian, IPTEK hanya absah secara metodologis, tetapi batil dan miskin secara maknawi.[9]
Kedua, pada kenyataannya, IPTEK yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik, materialistik, dan hedonistik, yang sangat ber-lawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut oleh bangsa kita.[10]
Ketiga, dalam hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan sepotong roti (kebutuhan jasmani) tetapi juga membutuhkan IMTAK dan nilai-nilai sorgawi (kebutuhan spiritual). Oleh karena itu, penekanan pada salah satunya, hanya akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat sebelah dan menyalahi hik-mat kebijaksanaan Tuhan yang telah menciptakan manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.[11]
Keempat, IMTAK menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa dasar IMTAK, segala atribut duniawi seperti harta, pangkat, IPTEK, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih kebahagiaan. Kemajuan dalam semua itu, tanpa iman dan upaya mencari ridha Tuhan, hanya akan mengahsilkan fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu (QS. An-Nur: 39). Maka integrasi IMTAK dan IPTEK harus di-upayakan dalam format yang tepat sehingga keduanya berjalan seimbang (hand in hand) dan dapat mengantar kita meraih ke-baikan dunia (hasanah fi al-dunya) dan kebaikan akhirat (hasanah fi al-akhirah) seperti do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada Tuhan (QS. Al-Baqarah: 201).
D. Menuju Integrasi IMTAK dan IPTEK
Untuk membangun sistem pendidikan yang mengintegrasi-kan pendidikan IMTAK dan IPTEK dalam sistem pendidikan nasional kita, kita harus melihat kembali aspek-aspek pendidikan kita, terutama berkaitan dengan empat hal berikut ini, yaitu:
1. Filsafat dan orientasi pendidikan (termasuk di dalamnya filsafat manusia),
2. Tujuan Pendidikan,
3. Filsafat ilmu pengetahuan (epistemologi) dan,
4. Pendekatan dan metode pembelajaran.
Dalam filsafat pendidikan konvensional, pendidikan di-pahami sebagai proses mengalihkan kebudayaan dari satu generasi ke generasi lain. Filsafat pendidikan semacam ini mengandung banyak kelemahan. Selain dapat timbul degradasi (penurunan kualitas pendidikan) setiap saat, pendidikan cenderung dipahami sebagai transfer of knowledge semata dengan hanya menyentuh satu aspek saja, aspek kognitif dan kecerdasan intelektual (IQ) semata dengan mengabaikan kecerdasan emosi (EQ) dan kecer-dasan spiritual (SQ) peserta didik. Dengan filosofi seperti itu, peserta didik sering diperlakukan sebagai makhluk tidak berkesa-daran. Akibatnya, pendidikan tidak berhasil melaksanakan fungsi dasarnya sebagai wahana pemberdayaan manusia dan peningkatan harkat dan martabat manusia dalam arti yang sebenar-benarnya.
Berbicara filsafat pendidikan, mau tidak mau, kita harus membicarakan pula tentang filsafat manusia. Soalnya, proses pendidikan itu dilakukan oleh manusia dan untuk manusia pula. Pendeknya, pendidikan melibatkan manusia baik sebagai subjek maupun objek sekaligus. Tanpa mengenal siapa manusia itu sebenarnya, proses pendidikan, akan selalu menemui kegagalan seperti yang selama ini terjadi.
Manusia, dalam pandangan Islam, adalah puncak dari ciptaan tuhan (QS. at-Thiin: 4), makhluk yang dimuliakan oleh Allah dan dilebihkan dibanding mahluk lain (QS. al-Isra: 70), merupakan mahluk yang dipercaya oleh Tuhan sebagai Khalifah di muka bumi (QS. al-Baqarah: 30, Shad: 36), manusia dibekali oleh Allah potensi-potensi baik berupa panca indera, akal pikiran (rasio), hati (qalb), dan sanubari (QS. as-Sajadh: 9). Dengan demi-kian, manusia adalah mahluk rasional dan emosional, makhluk jasmani dan rohani sekaligus.
Bertolak dari filsafat manusia itu, maka pendidikan tidak lain harus dipahami sebagai ikhtiar manusia yang dilakukan secara sadar untuk menumbuhkan potensi-potensi baik yang dimiliki manusia sehingga ia mampu dan sanggup mempertanggungjawab-kan eksistensi dan kehadirannya di muka bumi. Dalam perspektif ini, adalah pendidikan manusia seutuhnya dan harus diarahkan pada pembentukan kesadaran dan kepribadian manusia. Di sinilah, nilai-nilai budaya dan agama, IMTAK dan akhlaqul al-karimah, dapat ditanamkan, sehingga pendidikan, selain berisi transfer ilmu, juga bermakna transformasi nilai-nilai budaya dan agama (IMTAK).
Lalu, apa tujuan pendidikan itu? Dalam pandangan Islam, tujuan pendidikan tidak berbeda dengan tujuan hidup itu sendiri, yaitu beribadah kepada Allah swt (QS. Al-Dzariyat: 56). Dengan kata lain, pendidikan harus menciptakan pribadi-pribadi muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt yang dapat meng-antar manusia meraih kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan Islam berorientasi pada penciptaan ilmuan (ulama) yang takut bercampur kagum kepada kebesaran Allah swt (QS. Fathir: 28) dan berorientasi pada penciptaan intelektual dengan kualifikasi sebagai Ulul Albab yang dapat mengembangkan kualitas pikir dan kualitas dzikir (IMTAQ dan IPTEK) sekaligus (QS. Ali Imran: 191-193).
Proses integrasi IMTAQ dan IPTEK, seperti telah dising-gung di muka, pada hemat penulis, harus pula dilakukan dalam ta-taran atau ranah metafisika keilmuan, khususnya menyangkut onto-logi dan epistemologi ilmu. Ontologi ilmu menjelaskan apa yang dapat diketahui manusia, sedang epistemologi menjelaskan bagai-mana manusia memperoleh pengetahuan itu dan dari mana sum-bernya. [12] Dikotomi keilmuan yang terjadi selama ini sesungguhnya bermula dari sini. Untuk itu integrasi IMTAK dan IPTEK, harus pula dimulai dari sini. Ini berarti, kita harus membongkar filsafat ilmu sekuler yang selama ini dianut. Kita harus membangun episte-mologi islami yang bersifat integralistik yang menegaskan kesatuan ilmu dan kesatuan IMTAK dan IPTEK dilihat dari sumbernya, yaitu Allah swt seperti banyak digagas oleh tokoh-tokoh pendidi-kan Islam kontemporer semacam Ismail Raji al-Faruqi, Naquib al Attas, Sayyed Hossein Nasr, dan belakangan Osman Bakar.[13]
Selain pada pada aspek filsafat, orientasi, tujuan, dan epistemologi pendidikan seperti telah diuraikan di atas, integrasi IMTAK dan IPTEK itu perlu dilakukan dengan metode pembelajaran yang tepat. Pendidikan IMTAK pada akhirnya harus berbicara tentang pendidikan agama (Islam) di berbagai sekolah maupun perguruan tinggi. Untuk mendukung integrasi pendidikan IMTAK dan IPTEK dalam sistem pendidikan nasional kita, maka pendidikan agama Islam disemua jenjang pendidikan tersebut harus dilakukan dengan pendekatan yang bersifat holistik, integralistik dan fungsional.
Dengan pendekatan holistik, Islam harus dipahami secara utuh, tidak parsial dan partikularistik. Pendidikan Islam dapat mengikuti pola Iman, Islam dan Ihsan, atau pola iman, ibadah dan akhlakul karimah, tanpa terpisah satu dengan yang lain. Sehingga pendidikan Islam dan kajian Islam tidak hanya melahirkan dan memparkaya pemikiran dan wacana keislaman, tetapi sekaligus melahirkan kualitas moral (akhlaq al-karimah) yang menjadi tuju-an dari agama itu sendiri. Pendidikan Islam dengan pendekatan ini harus melahirkan budaya “berilmu amaliah dan beramal ilmiah”. Integrasi ilmu dan amal, IMTAK dan IPTEK haruslah menjadi ciri dan sekaligus nilai tambah dari pendidikan islam.[14]
Dengan integralistik, pendidikan agama tidak boleh terpisah dan dipisahkan dari pendidikan sains dan teknologi. Pendidikan IPTEK tidak harus dikeluarkan dari pusat kesadaran keagamaan dan keislaman kita. Ini berarti, belajar sains tidak berkurang dan lebih rendah nilainya dari belajar agama. Belajar sains merupakan perin-tah Tuhan (Al-Quran), sama dan tidak berbeda dengan belajar agama itu sendiri. Penghormatan Islam yang selama ini hanya diberikan kepada ulama (pemuka agama) harus pula diberikan kepada kaum ilmuan (Saintis) dan intelektual.
Dengan fungsional, pendidikan agama harus berguna bagi kemaslahatan umat dan mampu menjawab tantangan dan perkem-bangan zaman demi kemuliaan Islam dan kaum muslim. Dalam perspektif Islam, ilmu memang tidak untuk ilmu dan pendidikan tidak untuk pendidikan semata. Pendidikan dan pengembangan ilmu dilakukan untuk kemaslahatan umat manusia yang seluas-
luasnya dalam kerangka ibadah kepada Allah swt.
Sementara dari segi metodologi, pendidikan dan pengajaran agama disemua jenjang pendidikan tersebut tidak cukup dengan metode rasional dengan mengisi otak dan kecerdasan peserta didik semata-mata, sementara jiwa dan spiritualitasnya dibiarkan kosong dan hampa. Pendidikan agama perlu dilakukan dengan memberikan penekanan pada aspek afektif melalui praktik dan pembiasaan, serta melalu pengalaman langsung dan keteladanan prilaku dan amal sholeh. Dalam tradisi intelektual Islam klasik, pada saat mana Islam mencapai puncak kejayaannya, aspek pemikiran teoritik (al-aql al-nazhari) tidak pernah dipisahkan dari aspek pengalaman praksis (al-aql al-amali) pemikiran teoritis bertugas mencari dan menemukan kebenaran, sedangkan pemikiran praksis bertugas me-wujudkan kebenaran yang ditemukan itu dalam kehidupan nyata sehingga tugas dan akerja intelektual pada hakekatnya tidak pernah terpisah dari realitas kehidupan umat dan bangsa. Dalam paradigma ini, ilmu dan pengembangan ilmu tidak pernah bebas nilai. Pengembangan IPTEK harus diberi nilai rabbani (nilai ketuhanan dan nilai IMTAK), sejalan dengan semangat wahyu pertama, iqra’ bismi rabbik. Ini berarti pengembangan IPTEK tidak boleh dilepas-kan dari IMTAK. Pengembangan IPTEK harus dilakukan untuk kemas-lahatan kemanusiaan yang sebesar-besarnya dan dilakukan dalam kerangka ibadah kepada Allah swt.
E. Dampak Negatif Sains Modern
Sementara itu, upaya untuk merumuskan dan membangun IPTEK yang berangkat dari falsafah Al-Qur’anyang telah dirintis perlu diteruskan dan ditingkatkan intensitasnya. Kehadiran IPTEK Islam diharapkan bisa menjadi alternatif dari IPTEK saat ini yang dinilai gagal menghantar manusia kepada kebahagiaan hakiki meskipun IPTEK menjanjikan kenikmatan namun juga menggiring manusia ke tepi jurang kehancuran. Krisis lingkungan, menipisnya ozon, efek rumah kaca dan sebagainya telah membuat manusia cemas, belum lagi krisis moral dan etika, krisis psikis maupun sosial budaya yang hadir bersamaan dengan berkibarnya IPTEK. Pengembangan daya banding umat yang diintrodusir M. Natsir se-bagaimana di muka mengingatkan kita agar perlu perumusan kembali alternatif kreatif dalam menata prosfek Islam.
Pedang bermuka dua yang diemban IPTEK dengan segala perubahannya, baik harapan (perubahan dalam kondisi baik, nyaman dan sejahtera) maupun kegelisahan (karena menampilkan isyarat-isyarat masa depan yang lebih buruk). Kegelisahan dan ke-takutan itu telah diingatkan pula oleh Alvin Toffler dalam The Third Wave mengemukakan berbagai perubahan dalam tiga fase: Revolusi Pertanian (Gelombang Pertama), Revolusi Industri (Gelombang kedua) dan Revolusi Informasi (gelombang ketiga).[15] Persoalan itu telah banyak diperbincangkan para pakar, seperti tergambar dalam buku The Limits to Growth yang diedit oleh Donella Meadows,[16] terutama mengulas masalah-masalah yang di-hadapi umat manusia seperti teknis material. Kemudian lima belas tahun setelah terbit buku tersebut, muncul pula sebuah buku dengan judul An Agenda for the Twentiest Century yang berisikan gagasan-gagasan besar dari 22 pemikir, negarawan, ilmuan dan pendidik. Rushwoth Kidder, editor buku itu, mencoba menuliskan gagasan tersebut menjadi enam masalah yang nampaknya menjadi agenda permasalahan umat manusia abad XXI nanti: “Ancaman Nihilisasi Nuklir, Bahaya Overpopulasi, Degradasi Ekologi Global, Kesen-jangan Utara-Selatan, Restrukturisasi Sistem Pendidikan dan Moralitas”.[17]
Berbagai persoalan IPTEK sebagaimana di muka yang justru belum mempunyai solusi strategis yang belum menyentuh kepentingan dasar kemanusiaan. Sehingga perlu pemikiran alter-natif ke arah itu, sebagaimana dikembangkan oleh Mukti Ali bahwa pentingnya refleksi agamawi sebagai dasar IPTEK.[18]
F. Kecendrungan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sains atau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang terimplementasi dalam kehidupan realitas akan diwarnai oleh fal-safah (ideologi) tertentu dan agama. Dari sudut pandangan historis misalnya, pendekatan ini antara lain melahirkan tokoh semacam Karl Marx yang dikenal sebagai arsiteknya “historisme-materialis-me”,[19] yang melahirkan IPTEK memiliki karakteristik dan konse-kuensinya sendiri. Materialisme yang berpangkal dari empirisme itu merupakan isme yang menganggap materi itu tidak bertuhan, dalam realitas kehidupan ini cuma materi. Begitu juga IPTEK didekati dari aspek “pragmatisme” dengan penekanan kemakmuran (ekonomi) sebagai esensi masalah (yang juga sebagai konsekuensi logis dan pengembangan lebih lanjut dan dalam bentuk lain dari konsep Marx). Pendekatan ini melahirkan tokoh di abad XX ini semacam Rostow yang menelorkan teori “Pertumbuhan”. Dalam tulisannya The Stages of Economics Growth; nampak bahwa tahapan yang diklasifikasikan akan bertumpu pada tingkatan pen-capaian IPTEK pada suatu generasi manusia, ia membaginya dalam enam tahapan.[20] Konsep tersebut rupanya ada titik temunya dengan The Third Wave-nya Alvin Toffler.
Tiap-tiap revolusi di atas terjadi perubahan-perubahan ling-kungan budaya dan timbulnya ketegangan-ketegangan dalam masyarakat, karena kemajuan menimbulkan keseimbangan yang labil sampai ketidakseimbangan yang dinamis yang mengganggu adaptasi yang sudah mantap.[21]
Tetapi rupanya gelombang atau revolusi ketiganya Toffler atau tahapan keenam tawaran Rostow “beyond consumption” hing-ga kini masih “beyond of reality”, minimal belum menjadi faktor dominan. Itulah sebabnya pengaruh-pengaruh negatif masih mengundang sikap kritik berbagai pihak, terutama didekati secara religiusitas Islam. Sehingga muncul semisal dua kutub yang para-doksal, pesimisme dan atau optimisme. Sikap ini pun tidak sepenuhnya proporsional, karena kata, Rostow; praktiknya, hal itu disebabkan oleh pemahaman nilai aksiologi ilmu secara parsial dan belum adanya pemahaman filosofik-konseptual yang aktual tentang IPTEK. Akibatnya, kata Jalaluddin Rachmat,
“… tokoh-tokoh agama dicemoohkan… sains dianggap hanya berurusan dengan empiris, diukur dan diverifikasi. Agama karena tidak bisa diukur maka harus dikesampingkan. Dan pada gilirannya melahirkan diskriminatif dan altenatif terhadap agama.” [22]
IPTEK pada kondisi kini dijadikan kawasan bebas agama, dan terjadilah krisis kredibilitas agama, sehingga definisi agama tentang realitas semakin tak berwibawa. Aplikasi globalisasi telah menggantikan fungsi agama dengan rasionalisme dan empirisme, karena dianggapnya mampu melahirkan IPTEK. Jadi era ini telah me-miliki sumber tata nilai sendiri (buatan sendiri-artifisial). Dan hal itu sebetulnya merupakan penyimpangan fundamental dalam perspektif substansif kemanusiaan. Muncul “humanisme” (yang berakar dari rasionalisme) yakni kondisi kemanusiaan yang tidak bertuhan. Munculnya isme ini dalam panggung sejarah ditandai dengan adanya Renaisance, yang mempigurkan manusia sebagai titik pusat alam.
Faktor artificial inilah yang menjadi titik lemah, yang di-abaikan. Artificial Intelengence yang dimiliki berbagai produk tek-nologinya telah menghasilkan teknologi yang bisa berpikir sendiri dan bahkan dapat mengambil putusan-putusan sendiri, maka tetap tidak memiliki makna manusiawi.[23] Padahal seyogyanya memaha-mi fungsi dan status manusia secara tetap agar disadari bahwa agamalah sebagai sumber moral yang lengkap di samping IPTEK (Aksiologi–Science). Sebab lanjut AM. Saifuddin,
“… aturan moral yang lengkap ini didasarkan pada sesuatu tata nilai yang berisi norma-norma untuk pencarian kehidupan
spiritual-religius”…[24]
Tata nilai inilah merupakan acuan untuk seluruh ummat manusia ketika dia bangun dan jatuh.
G. Desekularisasi Pemikiran IPTEK
Kesadaran yang integralistik dan holistik tentang pemikiran intelektual (IPTEK) dengan agama jauh sebelumnya telah diekspos oleh Einstein,[25] dan bahkan lebih optimis lagi nada yang dilontar-kan Soedjatmoko sampai ke tingkat kerjasama agama-agama dunia untuk upaya menciptakan potret masyarakat yang lebih bermoral.[26] Tetapi dilihat dari sisi lain bisa akan timbul rasa cemas dari ka-langan Islam yang berpikiran fundamentalis,[27] terlihat di sini menu-rut pemikiran mereka, sebuah dilema yang dihadapi agama-agama atau lebih tegasnya para pemeluk, bila agama akan ditawarkan sebagai alternatif bagi bingkai peradaban yang akan datang. Persoalan ini pernah dijelaskan oleh M. Syafi’i Maarif dengan nada optimis bahwa “…kita tidak perlu pesimis, asalkan ekspresi ke-agamaan kita menjadi lebih dewasa, spiritual dan intelektual” ,[28] yang justru lebih proporsional. Muncullah kemudian pemikiran alternatif, yang diharapkan teknologi dapat terkendali oleh manu-sia. Pemikiran alternatif strategis itu, yang ingin membawa pende-katan berikut IPTEK ke arah yang lebih holistik dan integratif, yang tidak hanya didekati dari dimensi tertentu yang parsial, me-lainkan lebih menekankan aspek manusiawi lebih yang terjaga integritas kepribadiannya. Gagasan ini antara lain melahirkan tokoh semacam Paul Tillich yang mengajak mempertimbangkan faktor teologis,[29] yakni sebuah pemikiran otonomi manusia yang dipadu dengan nilai-nilai transedental bersumberkan wahyu.
Begitu pula visi yang datang dari kalangan Islam; dengan alternatif semacam itu, secara internal masih dihadapkan dengan dua kendala obyektif. Pertama, faktor subyektif internal kalangan agamawan yang belum siap dengan konsep alternatif pemahaman keagamaan. Kedua, faktor obyektif eksternal yang masih begitu kuat dalam cengkeraman kekuatan-kekuatan artifisial. Dalam tubuh ummat Islam sendiri, ada faktor subyektif seperti tergambar di atas hingga saat ini masih `belum sepenuhnya melepas diri dari akar teologis yang fatalistis dan bahkan mystissis, baik bersumber dari gaya ortodoksi jabariyah maupun mystisisme malu-malu gaya Asy’ariyah dan Maturidiyah. Olehnya itu belum mampu meretas realitas obyektif yang didominasi kekuatan artificial dukungan rasionalisme.
Hal itu bukanlah berarti tidak ada upaya Revavilisme, yang penting sekarang ialah usaha mengquranikan kultur, pada abad kebangkitan ini, menjadi kejayaan masa mendatang (The Glory of the Future) umat Islam.[30] Upaya itu prosesnya juga terasa panjang, yang menggambarkan segmentasi intensitas pemahaman. Fazlur Rahman misalnya, menawarkan empat segmentasi di antara-nya adalah Pasca Modernisme dan New Modernisme. Yang per-tama merumuskan sistem sosial tersendiri anti kolonialisme yang tidak terkontrol dan apologetik; hal ini oleh Huston Smith disebutkan sesungguhnya posisinya sangat lemah secara intelek-tual, masih memiliki keinginan ekspansionistik, untuk menjajah, disebabkan oleh sains dan teknologinya yang memang diinginkan.” Sementara segmentasi berikut mencoba melontarkan gagasan tersendiri dan berijtihad secara komprehensif berdimensi jangka panjang.
H. Penutup
Nampak bahwa tarik menarik dalam merumuskan alternatif (religiusitas) telah melahirkan kondisi subyektif yang penuh dengan ketegangan, sehingga kadang-kadang energi tak sempat terbagi untuk menghadapi kendala obyektif. Jadi kita masih perlu ijtihad, agar teologi sebagai pendekatan pembangunan dan per-adaban IPTEK memiliki aktualitas sejarah. Dengan demikian prinsip-prinsip epistomologi Islam yang bersifat integralistik yang menegaskan kesatuan ilmu dan kesatuan IMTAQ dan IPTEK, perlu diwujudnyatakan dalam kancah profan sebagai aplikasi aksiologi science, karena di sisi lain IPTEK modern dewasa ini masih jauh dari nilai moralitas (aksiologis itu), sehingga perlu ijtihad secara komprehensif, spiritual dan intelektual.
Daftar Pustaka
Ali, Mukti, Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini, Jakarta: Rajawali Press, 1987.
Ali, Fachry dan Bahtiar Effendi, Merambah Jalan Baru Islam, Cet. I, Bandung:Mizan,1986.
Bagir, H. dan Zaenal Abidin, Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, (tt,tt).
Tibi, Bassam, The Crisis of Modern Islam: A Prendustrial Culture in the Scientific -Technological Age, Salt Lake City: University of Utah Press, 1988.
Jawa Pos, Surabaya:25 Juli, 1988.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Yayasan Penyelenggara /Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1971.
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat, Jilid II, Cet. IX, Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Hanafi, Hasan, Islam in the Modern World: Religion, Ideology, and Development, Kairo: The Englo-Egyptian Bookshop, 1995.
Hoogerwerf, A, Politikologi, Jakarta: Erlangga, 1985.
Kuntowijoyo, Paradigma Islam- Interpretasi Untuk Aksi, Cet. III, Bandung: Mizan, 1991.
Kompas, Jakarta : 28 Agustus, 1985.
Madjid, Nurcholish, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Cet. I, Bandung: Mizan, 1987.
Siddiqi, Mazheruddin, Modern Reformist Thought in the Muslim World, Delhi: Adam Publishers & Distributors, 1993.
Al Muslimun, No. 243, Bangil: Desember, 1990.
Majdid, Nurcholis (Ed.), Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern, Cet. I, Jakarta : Mediacita, 2000.
S. Suriasumantri, Jujun, Ilmu Dalam Perspektif, Cet. IX, Jakarta: Gramedia, 1991.
Saefuddin, AM. Desekularisasi Pemikiran-Landasan Islamisasi, Cet. IV, Bandung: Mizan, 1993.
Quthub, Sayyid, Al-Islam wa Musykilat al-Hadlarah al-Islamiyyah, Cet. XV, Beirut : Dar al-Syuruq, 1979.
Quthub, Sayyid, Nahwa Mujtama Al Islam, Amman: Maktabah al-Aqsha, 1969.
Nasr, Seyyed Hossein, Islam and the Plight of Modern Man, Cet. I, London and New York: Longman Group Ltd., 1975.
Ulumul Qur’an, No. 1, Vol. VI, Jakarta: 1995.
Jurnal Ilmu dan Budaya, Th.IX, No.8, tt., Mei, 1987.
Tuhuleley, Said, (Peny.), Permasalahan Abad XXI: Sebuah Agenda, Cet. I, Yogyakarta : Sipress, 1993.
[1]Lihat Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat, Jilid III, (Cet. IX, Yogyakarta: Kanisus, 1993), h. 133-147.
[2]Departemen Agama RI, Al-Qur-an dan Terjemahnya. (Jakarta: Yayasan Penyeleng-gara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur-an, 1971), h. 99.
[3]Penguasaan IPTEK mutlak diperlukan dengan alasan yang dikemukakan Abdus-salam bahwa di Negara-negara Dunia Ketiga persoalan di sekitar Sains dan Teknologi sangat diwarnai oleh ketimpangan dalam penguasaannya. Hal itu digambarkan dalam artikelnya yang berjudul “What the Third World Really Needs”. Lihat Said Tuhulely (Peny.), Permasalahan Abad XXI Sebuah Agenda, (Cet. I, Yogyakarta: Sipress, 1993), h. V-XX.
[4]Ibid, h. 162
[5]Lihat Bassam Tibi, The Crisis of Modern Islam: A Prendustrial Culture in the Scientific -Technological Age, (Salt Lake City: University of Utah Press, 1988), h. 2-3
[6]Lihat Mazheruddin Siddiqi, Modern Reformist Thought in the Muslim World (Cet. I, Delhi: Adam Publishers & Distributors, 1993), h. 1-3.
[7]Hasan Hanafi, Islam in the Modern World: Religion, Ideology, and Development, (Kairo: The Englo-Egyptian Bookshop, 1995), h. 373-377
[8]Lihat Sayyid Quthub, Nahwa Mujtama Al Islam, (Amman: Maktabah al Aqsha, 1969), h. 7.
[9]Tentang ancaman IPTEK terhadap nilai-nilai kemanusiaan lihat Komaruddin Hidayat, “Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern” dalam Nurcholis Majdid (ed), Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern, (Cet. I, Jakarta: Mediacita, 2000), h. 101.
[10]Lihat Sayyid Quthub, Al-Islam wa Musykilat al-Hadlarah al-Islamiyyah, (Cet. XV, Bairut: Dar al-Syuruq, 1979), h. 5-8.
[11]Manusia modern telah membunuh “Tuhan” dan membuang semua nilai sorgawi, karena ia hanya mau hidup dengan sepotong roti saja. Ia berada di ujung (pheripheri), jauh dan hampir terputus dari pusat kehidupan (centrum), yaitu Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa. Lihat Sayyed Hossein Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, (Cet. I, London and New York: Longman Group Ltd., 1975), h. 4-5.
[12]Lihat Osman Bakar, Tauhid dan Sains (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h.14-21.
[13]Lihat Mulyadi Kertanegara, “Membangun Kerangka Ilmu: Perspektif Filosofis” dalam Komaruddin Hidayat dan Hendro Prasetyo (ed), Problem dan Prospek IAIN: Antologi Pendidikan Tinggi, (Jakarta: Direktorat Pembinaan perguruan tinggi Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI, 2000), h. 252-253.
[14]Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan lain pada umumnya. perbedaan utama yang paling menonjol ialah bahwa pendidikan Islam tidak hanya mementingkan pembentukan pribadi untuk kebahagiaan dunia, tapi juga untuk kebahagiaan akhirat. Lebih dari itu, pendidikan Islam berusaha memben-tuk pribadi yang bernafaskan ajaran-ajaran Islam, sehingga pribadi-pribadi yang terbentuk itu tidak terlepas dari nilai-nilai agama. Azyumardi Azra, Esei-Esei Islam Intelektul Muslim & Pendidikan Islam, (Cet. I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), h. 6-13.
[15]Lihat AM. Saefuddin, “Tata Nilai dan Kehidupan Spritual Abd XXI” dalam Said Tuhulely (Peny.), op. cit., h. 7.
[16]Donella Meadows, et al, “The Limits to Growth” dalam A. Hoogerwerf, Politikologi, (Jakarta: Erlangga, 1985), h. 9.
[17]Rushtoth Kidder, “An Agenda for the Twentiest Century”, dalam Said Tuhulely, (Peny., op.cit. h. XVII – XIX. Ungkapan dan uasan dalam buku ter-ebut merupakan kata pengantar dari M. Amien Rais.
[18]Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, (Cet. III, Bandung: Mizan, 1991), h. 321. Bandingkan dengan Mukti Ali, Beberapa Per-soalan Agama Dewasa Ini, (Jakarta: Rajawali Press, 1987), Bab 17.
[19]Uraian lebih rinci dapat dilihat misalnya Harun Hadiwijono, op. cit., h. 118-123.
[20]Lihat Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam, (Cet, I, Bandung: Mizan, 1986), h. 100-103.
[21]T. Jacob, “Perkembangan IPTEK di Abad XXI“, dalam Said Tuhuleley, (Peny.), op. cit., h. 53.
[22]Jalaluddin Racmat, “Tanggung Jawab Intelektual Islam di Lingkungan Univer-sitas”. Disampaikan dalam seminar sehari tentang Intelektual Muslim dan kesadaran beragama di Lingkungan Universitas, (MIIP-BKSM UNISBA, 1985), h.1-2
[23]Muchtar Lubis, “Perkembangan Ilmu, Teknologi dan Kita”, Kompas, (Jakarta: 28 Agustus, 1985), h. 4.
[24]AM. Saefuddin, dalam Said Tuhuleley, op. cit., h. 4.
[25]Albert Einstein (1879-1917), teoritikus terbesar dalam ilmu Alam, Pemenang hadiah Nobel 1921 untuk sumbangannya di Bidang Ilmu Fisika Teori. Tentang integra-listik ilmu dan agama, ia dengan jujur mengatakan bahwa ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah buta. Uraian lebih rinci tentang hal itu dapat dilihat misalnya dalam Deliar Noer, “Religiusitas dan Masalah Dunia”, Al-Muslimun, No. 243. Banding-kan pula dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Cet. IX , Jakarta: Gramedia, 1991), h. 3-4.
[26]Soedjatmoko, ”Between Trancendence and History”, Ilmu dan Budaya, Th. IX No. 8(tt, Mei 1987).
[27]Lihat Fachry Ali dan Bahtiar Effendi, op. cit., h. 239.
[28]Ahamad Syafi’i Maarif, “Agama dan Permasalahannya di Abad XXI: Sebuah Perspektif Islam” dalam Said Tuhuleley, (Peny.), op, cit., h. 140
[29]Lihat misalnya dalam Kuntowijoyo, op. cit., h. 305. Bandingkan pula dengan Mun’im D.Z, “Mempertimbangkan Teologi Pembangunan”. Jawa Pos, (Suarabaya: 25 Juli, 1988), h. 6.
[30]AM. Saefuddin, Desekularisasi Pemikiran-Landasan Islamisasi, (Cet.IV, Bandung: Mizan, 1993), h. 179.













